Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, Jalan Raya Tiron Nomor 87 Madiun, Kontak Person WA +6288805795497

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

SUPARMAN SEORANG PENDEKAR YANG BERASAL DARI LERENG GUNUNG PANDAN

Suparman adalah seorang pendekar yang berasal dari lereng gunung pandan, Suparman mempunyai tekad yang kuat untuk selalu membela bangsa Indonesia dari segala bentuk penjajahan yang dilakukan oleh Belanda.

Suparman selalu membuat kerusuhan dengan melakukan pembunuhan dan merampok serta mencuri barang-barang dan harta benda yang menjadi milik antek-antek Belanda. Di sisi lain Mantri polisi Darmogandul yang menjadi salah satu antek Belanda selalu berusaha untuk menangkap Suparman bagaimanapun keadaannya.

Suparman telah lama menimba Ilmu kanuragan dan dia memiliki saudara seperguruan yang bernama Surti. Suparman mempunyai Pak Lek yang menjadi antek belanda dan dia sangat tidak suka dengan Suparman dan Pak Lek tersebut memiliki pembantu yang bernama asworo.

asworo membela Pak Lik karena merasa bahwa dia adalah juragannya. singkat cerita Suparman dan asworo akhirnya berseteru dan menjadi musuh bebuyutan..

itulah alur sebuah cerita dari pagelaran ludruk dalam rangka pengambilan gambar video untuk mencukupi media dalam pekan seni nasional dan daerah (PKN/PKD) oleh sanggar seni RSJ (Rinenggo Seni Jowo) Saradan Kabupaten Madiun.

Bagaimana kisah selanjutnya, hasil video dapat dinikmati di chanel youtube Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun besok setelah tanggal 7 Oktober 2020.

Perlu diketahui seperti pengambilan gambar kemarin, yakni thok-thok brok dan dongkrek, begitu juga dengan penyelenggaraan pagelaran ludruk tetap juga menyesuaian dan mematuhi protokol kesehatan pencegahan pandemi covid-19.

Pelestarian Kesenian Ludruk ditengah perkembangan dan masuknya budaya modern sangat dirasakan oleh bidang yang mempunyai kewenangan, yakni Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun.

Maka kali ini pagelaran ludruk dianggkat masuk dalam ajang kompetisi Pekan Seni Nasional maupun daerah, inilah kenang-kenangan hiburan rakyat yang booming kurang lebih sebelum tahun 1980 an, ungkap Staf Bidang Kebudayaan “Hari Subagiyo”.

Mengapa demikian ? karena saat itu televisi swasta belum marak atau seramai seperti sekarang, bahkan jam tayang telvisi jaman dulu hanya terbatas pada malam hari kurang lebih hanya sampai jam 24.00.

apalagi film atau seinetron yang sifatnya hiburan, jam tayangnya hanya terbatas, maka orang jaman dulu dapat dikatakan kurang hiburan, maka adanya hiburan rakyat yang merupakan asli warisan leluhur masih laku keras pada saat itu.

Berbeda dengan kondisi sekarang, televisi swasta sudah banyak bermunculan, sinetron sudah banyak bermunculan bahkan jam tayang televisi sekarang hampir bisa dikatakan 24 jam penuh.

Ditambah lagi dengan perkembangan aplikasi di gadged, baik yang sifatnya hiburan maupun game, tentu saja pagelaran asli daerah seperti ludruk jelas sudah dilupakan oleh mereka.

Itulah salah satu penyebab hiburan rakyat seperti ludruk hampir dapat dikatakan tidak laku di masyarakat, laku hanya di daerah tertentu saja, jumlahnya pun tidak banyak, dan penggemar pun rata-rata bagi mereka golongan yang sudah usia lanjut.

Bagaimana dengan anak muda jaman sekarang ? tentu saja hampir sudah tidak mengenal lagi dengan adanya pagelaran ludruk, mungkin mereka menganggap sudah kuno atau ketinggalam jaman.

Sugina, S.Sos Kasi Cagar Budaya prihatin dengan adanya hal tersebut, sebetulnya sudah berusaha dengan keras untuk melestarikan kesenian ludruk tersebut minimal dengan membangun sebuah musium.

Namun sampai saat ini belum tercapai juga, dikarenakan oleh banyak faktor, mungkin salah satunya adalah anggaran dan kepedulian dari masing-masing pihak, seberapa besarkah komitmen dari mereka untuk bisa mewujudkan hal tersebut.

Sugina kembali mencontohkan, misalkan didalam musium nanti ada gambar atau nama nama dalam tokoh yang ada dalam alur cerita ludruk jaman dahulu, minimal anak muda sekarang bisa mengenal bahwa jaman dahulu kala ada kesenian yang merupakan asli dari wilayahnya.

Sehingga akan bermunculan inovator-inovator baru, khususnya anak muda jaman sekarang untuk bisa mengkolaborasi alur cerita lama yang disesuaikan dengan kondisi sekarang, sehingga pagelaran ludruk tetap terjaga dan terselamatkan dari kepunahan, itulah harapan dari Kepala Bidang Kebudayaan. “Bariyanto, S.Pd”.

Editor : Nunus Dwi Nugroho

Chanel youtube : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun

https://www.instagram.com/dikbud__kabmadiun/?hl=en

Sekecil ketidak jujuran, kami takut mereka akan terpengaruh !!!

Kabupaten Madiun Kampung Pesilat Indonesia

Wong madiun, madiun sedulurku kabeh (Jawa Timur), madiun, Pendidikan madiun, Pendidikan Kabupaten madiun, dispendikbud madiun, dispendikbud Kabupaten madiun, dindik Madiun, dindik Kabupaten Madiun. Dikbud kabupaten madiun, dikbud madiun.

Jumlah kecamatan ada 15, yakni Kecamatan Dolopo, Geger, Kebonsari, Dagangan, Wungu, Kare, Jiwan, Sawahan, Madiun, Balerejo, Wonoasri, Pilangkenceng, Mejayan, Saradan, dan Gemarang.

Brem, pecel (nasi pecel / sego pecel / krupuk pecel / opak pecel), seni dongkrek